Thursday, December 11, 2014

Redefining

Redefining...Ini barang jadul yang jarang disebut atau digunakan karena efeknya kerap memberi rasa tidak nyaman bagi si pengguna.

Redefining artinya kurang lebih mendefinisikan ulang. Buat saya arti bebas dari redefining adalah menemukan esensi baru dari sesuatu.

Mengapa redefining ini membuat tidak nyaman? karena dengan melakukan redefining kemungkinan besar kita akan berhadapan dengan perubahan dan tidak ada seorangpun yang nyaman dengan perubahan, termasuk saya.

Tetapi kita semua perlu menyadari bahwa redefining ini diperlukan karena jaman terus berkembang. Situasi dan kondisi juga terus berubah.Sehingga mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar, proses redefining ini sebenarnya terjadi.

Pernah suatu ketika saya terlibat diskusi dengan seorang teman yang pada akhir diskusi tersebut dia menyimpulkan, "Yang duitnya lebih sedikit, minum teh panas di pagi hari saja sudah bisa bersyukur. Sebaliknya yang duitnya lebih banyak, minum jus aja masih sambil ngomel, entah kurang manislah, kurang ini lah, kurang itulah. Yang duitnya lebih sedikit seringkali malah terlihat lebih bahagia, hidupnya tanpa beban. Yang duitnya lebih banyak malah sering kali mengeluh duitnya kurang, harus cari pinjaman kemana lagi, dst dst dst. Jadi sebenarnya siapa yang kaya dan siapa yang miskin?"

Jadi kaya atau miskin ternyata tidak hanya melulu diukur dengan banyaknya harta (definisi lama) saja melainkan sudah berkembang menjadi masalah mentalitas (redefining arti kaya).

Pernah pula saya terlibat diskusi dengan teman yang lain, kali ini kami terlibat diskusi masalah Financial Freedom. Semua orang pasti ingin mencapai kondisi financial freedom. Tapi pernahkah terpikir oleh kita untuk mendefinisikan ulang arti dari Financial Freedom bagi kita masing-masing? Mengapa perlu definisi ulang? Karena Financial Freedom itu bukan berarti duitnya tidak ada serinya melainkan kondisi dimana penghasilan kita sudah mencukupi gaya hidup yang kita inginkan.

Financial Freedom tanpa batasan akan memberikan ruang untuk sifat greedy. Sifat greedy akan menyebabkan kita miskin secara rohani.

Jadi Financial Freedom itu bukan berarti punya duit yang ga ada serinya alias unlimited (definisi lama) melainkan kondisi dimana penghasilan kita mampu mencukupi gaya hidup yang kita inginkan (redefining arti Financial Freedom).

Ada lagi yang mau sharing mengenai pengalaman melakukan atau mendapatkan cerita tentang proses redefining?

Thursday, July 17, 2014

Piramida Terbalik Pada Komisi Agen Properti Yang Harus Kita Balik Lagi

Piramida Terbalik di Seputar Komisi Agen Properti Yang Harus Kita Balik Lagi

Pernah anda dengar kalimat berikut "semakin mahal sebuah properti semakin kecil komisi agen properti"?

Apakah anda termasuk yang meng-iya-kan kalimat tersebut?
Apakah anda termasuk yang menolak kalimat tersebut?
Apakah anda termasuk yang masih bimbang dengan kalimat tersebut?

mari kita senyum bersama sejenak untuk menghilangkan kebingungan kita dan bersama-sama menelusuri secara logis manakah yang seharusnya kita pilih dari ketiga kalimat atau ungkapan di atas.


KETENTUAN KOMISI AGEN PROPERTI MENURUT PEMERINTAH


Menurut peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 33/M-DAG/PER/8/2008 tentang Perusahaan Perantara Perdagangan Properti menetapkan besaran komisi untuk broker properti minimal 2 persen dari nilai transaksi.

Mengenai besaran komisi 2% ini saya masih mencoba menelaah mengenai proses perhitungannya sehingga bisa ditetapkan sebesar 2% tetapi memang masih belum saya temukan sumber yang resminya sehingga untuk sementara saya anggap (dan saya harap anda juga untuk sementara ini sepakat dulu dengan saya) sebagai konstanta saja bahwa MINIMAL komisi seorang agen properti adalah sebesar 2% dari nilai transaksi.


LOGIKA PENENTUAN BESARNYA KOMISI AGEN PROPERTI BERDASARKAN HARGA PROPERTI


Selama ini ada 2 kelompok besar dalam hal penentuan besarnya komisi agen properti :
1. Semakin mahal nilai properti semakin kecil komisi seorang agen properti
2. Semakin mahal nilai properti semakin besar komisi seorang agen properti

Pertanyaan mendasarnya adalah, "Sebagai seorang agen properti, manakah yang anda pilih?"

Tentu saja anda akan pilih no 2...

Hanya saja selama ini kita sulit mempertahankan pilihan kita karena kita belum bisa memberikan penjelasan logis kepada pihak vendor/owner/pemilik rumah. Mengapa? karena selama ini yang ada di benak masing-masing pihak (owner dan agen properti) adalah seperti di bawah ini :

1. Opsi 1 seringkali dipilih oleh pihak vendor/owner/pemilik rumah karena tentu saja bagi mereka sangat menguntungkan dengan memberikan komisi yang lebih kecil kepada agen properti
2. Opsi kedua  seringkali dipilih oleh agen properti karena tentu saja bagi merekasangat menyenangkan menerima komisi lebih besar daris sebuah transaksi properti.

Logikanya begini, didalam piramida jumlah penduduk berdasarkan level kekayaannya, Piramida paling atas (orang-orang kaya) jumlahnya jauh lebih kecil daripada piramida level bawah. Jadi :
1. Semakin mahal harga sebuah properti maka jumlah calon pembeli yang mampu membeli properti tersebut semakin sedikit.
2. Jumlah calon pembeli yang semakin sedikit mengakibatkan proses promosi yang dilakukan oleh seorang agen properti harus lebih masif lagi
3. Jumlah calon pembeli yang semakin sedikit mengakibatkan waktu tunggu properti tersebut terjual menjadi semakin panjang
4. Promosi yang harus lebih masif menyebabkan biaya untuk promosi menjadi lebih besar
5. Promosi yang harus lebih masif menyebabkan resiko yang lebih besar pada investasi untuk mempromosikan properti tersebut

Hal-hal di atas masih belum ditambah lagi resikonya jika sang pemilik memilih untuk mengikat komitmen kepada si agen properti dengan Surat Ijin Memasarkan properti saja alias open listing.


Poin-poin inilah yang harus kita jelaskan kepada vendor/owner/pemilik properti, tentu saja dengan bahasa yang lebih baik lagi.

Adalah tidak fair jika menganut "Semakin mahal harga sebuah properti semakin komisi agen properti" oleh karena itu sebagai agen properti kita semua harus sepakat bahwa PIRAMIDA YANG TERBALIK INI HARUS KITA BALIK LAGI BERSAMA-SAMA.

Bagaimana jika pihak vendor/owner/pemilik properti tidak menerima konsep ini? beginilah langkah-langkah komprehensifnya :
1. Edukasi dan sosialisasi selalu membutuhkan waktu selain usaha.
2. Kita harus berani menolak me-listing
3. Menunggu regulasi dari pemerintah yang juga harus didorong oleh AREBI bahwa agen properti harus mempunyai sertifikat profesi (lisensi) dan regulasi bahwa transaksi properti hanya bisa dilakukan oleh agen properti bersertifikat/Berlisensi.

Saturday, February 1, 2014

Kembali Ke Laptop

Jika melihat judulnya memang mirip ungkapan yang sering dikatakan oleh seorang komedian melalui suatu acara di televisi dimana dia menjadi host dari acara tersebut. Tetapi bukan itu yang saya ingin bahas di sini melainkan lebih kepada ajakan bahhwa di saat yang kita jalani mulai terlihat membingungkan ada baiknya kita kembali kepada dasar teori atau pengertian dasarnya, dalam hal ini yang ingin saya sampaikan adalah mengenai pemasaran.

Pada dasarnya pemasaran dan penjualan adalah berbeda. Adapun jika digabungkan, salah satunya dalam teori marketing mix, oleh bapak marketing Indonesia, menurut saya hal itu merupakan perkembangan dari teori dasar.

Kembali ke laptop.....

Pemasaran (bahasa Inggris: marketing), menurut "om wiki(pedia)",  adalah proses penyusunan komunikasi terpadu yang bertujuan untuk memberikan informasi mengenai barang atau jasa dalam kaitannya dengan memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia.

Ada 3 poin besar yang saya tangkap dari definisi tersebut dan menurut saya ketiga poin tersebut saling berhubungan erat dan tidak dapat dipisahkan :
1. Penyusunan komunikasi terpadu
2. Tujuan untuk memberikan informasi mengenai barang atau jasa (produk)
3. Memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia


KOMUNIKASI

Pada poin pertama saya menangkap bahwa marketing adalah mengenai komunikasi antara marketer dan marketnya. Itulah sebabnya syarat menjadi marketer adalah harus bisa berkomunikasi.

Yang perlu disadar adalah, semua orang bisa berkomunikasi. meskipun orang tersebut tuna wicara. Hanya saja terkadang kita membandingkan level komunikasi kita dengan level komunikasi orang lain yang lebih tinggi dan kemudian kita menanggapi hasil perbandingan kita tersebut dengan tidak proporsional dan berakibat pada kesimpulan yang kurang positif. Akibatnya kita mengklaim diri kita sendiri bahwa kita tidak bisa berkomunikasi padahal yang namanya level itu pasti bisa ditingkatkan!!! Kita semua bisa berkomunikasi hanya perlu meningkatkan level berkomunikasinya!!!


INFORMASI PRODUK

Tujuan dari berkomunikasi adalah menjelaskan apa yang kita maksud kepada lawan komunikasi kita sehingga lawan komunikasi kita mengerti apa yang kita maksudkan. Dalam konteks kali ini tentu saja apa yang kita maksudkan tersebut adalah produk yang ingin kita pasarkan.

Seringkali dalam berkomunikasi kita lupa akan tujuan kita berkomunikasi dan kita terjebak dengan ego kita sehingga ujungnya komunikasi yang terjadi akan menjadi debat dan tujuan komunikasi tersebut melenceng menjadi menang atau kalah.Tetaplah berfokus pada tujuan kita berkomunikasi.

Kemudian, karena tujuan kita adalah berkomunikasi adalah supaya produk kita dimengerti oleh lawan komunikasi kita, tentunya kita juga harus mengerti bahkan memahami produk yang ingin kita komunikasikan tersebut. Singkat katanya, bagaimana mungkin kita bertujuan untuk membuat lawan komunikasi kita mengerti sesuatu yang kita sendiri tidak mengerti?


MEMUASKAN KEBUTUHAN DAN KEINGINAN MANUSIA

Pertanyaan mendasar dari segmen ini adalah, "Kebutuhan dan keinginan siapa yang harus terpuaskan ?"

Sekilas pertanyaan tersebut terkesan sangat mudah dijawab. Dengan melihat judul dari segmen ini saja sudah terjawab. Tetapi seringkali kita yang dengan sedemikian mudah menjawab pertanyaan tersebut masih saja melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan jawaban kita sendiri. Seringkali kita lebih memuaskan kebutuhan dan keinginan kita di dalam proses pemasaran yaitu kebutuhan dan keinginan untuk closing.

Tetaplah fokus dan sadari bahwa yang harus terpuaskan kebutuhan dan keinginannya adalah kebutuhan dan kepuasan pelanggan!!!

Hal lain yang perlu kita sadari adalah bahwa keinginan itu timbul setelah pelanggan merasa butuh, baik timbul atas kehendak pelanggan itu sendiri maupun timbul sebagai akibat komunikasi produk dari sang pemasar.

Dari pernyataan tersebut, menurut saya hal yang paling penting adalah menggali kebutuhan, menimbulkan rasa membutuhkan dan kemudian menimbulkan keinginan untuk memanfaatkan produk kita. Akibat dari keinginan pelanggan ini tentu saja proses penjualan akan menjadi lebih mudah.

Sunday, January 26, 2014

Andalah Keajaiban Itu

Pulang dari acara nongkrong reguler dengan teman-teman, saya sempat nonton film di TV. Kebetulan filmnya "Bruce Almighty" yang walaupun film lama tapi termasuk salah satu film yang saya sukai.

Pada intinya film ini bercerita tentang cinta dan kehendak bebas (free will) yang dimainkan oleh Jim Carrey (Bruce), Jennifer Aniston (Grace) dan Morgan Freeman (Tuhan).

Singkat kata, pada bagian akhir ada nasehat yang menarik dari "Tuhan" yang saat itu memberikan nasehat kepada Bruce :

Seorang ibu yang sendirian mampu mengasuh kedua anaknya dengan baik, itu adalah keajaiban...
Seorang anak yang lahir di lingkungan "hitam" yang menolak narkoba dan memilih pendidikan, itu adalah keajaiban...
Apakah kau ingin melihat keajaiban, nak? Jadilah keajaiban itu...


Sebuah nasehat yang sederhana tetapi mempunyai banyak makna dan saya ingin membagikan salah dua makna dari sudut pandang saya yaitu :
1. Jangan mencari-cari alasan yang melemahkan
2. Andalah keajaiban itu


Jangan Mencari-Cari Alasan Yang Melemahkan

Di saat kita sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah dan kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan maka lakukanlah itu, jangan membuat alasan-alasan yang melemahkan kita.

Di saat kita memilih melakukan hal-hal baik, walaupun saat itu kita berada di lingkungan yang kurang baik, itu sudah termasuk mukjizat.

Kita mempunyai cinta dan kehendak bebas, jadi walaupun lingkungan buruk itu sedikit banyak berpengaruh pada kita tetapi kita mempunyai kehendak bebas untuk memilih apa yang akan kita lakukan.


Andalah Keajaiban Itu

Seringkali kita lebih suka mencari mukjizat tanpa menyadari bahwa kita bisa melakukan mukjizat itu. Hal-hal yang menurut kita kecil dan tidak akan membuahkan perubahan yang drastis seringkali menjadi inspirasi bahkan merupakan mukjizat bagi sesama kita.

Pernah suatu ketika di dalam persekutuan doa, seperti biasa umat yang hadir dipersilakan mengucapkan doa syukur. Saat itu saya saya mengucapkan doa syukur atas kebaikan Tuhan. Menurut saya biasa saja.

Pada akhir persekutuan doa itu, seperti biasa ada sesi kesaksian, ternyata ada salah satu teman saya yang sedang menanggung beban memberikan kesaksiannya bahwa dia merasa tersentuh atas ucapan syukur saya dan beban yang dia merasa lebih bersemangat untuk menanggung dan menghadapi bebannya dan dari kesaksian dia ada beberapa teman-teman lain yang bersyukur dan belajar dari peristiwa ini dan akhirnya sebagian besar umat merasa bersyukur.

Saya belajar dari kejadian tersebut bahwa sekecil apapun kebaikan yang bisa kita lakukan maka lakukanlah. Kita tidak pernah tahu seberapa besar akibat dari perbuatan baik yang menurut kita kecil itu.


Pada akhir tulisan ini saya mencoba menyimpulkan buat saya sendiri dan buat anda yang setuju :

SUKSES ADALAH SAAT KARYA KITA BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN. DENGAN CINTA DAN KEHENDAK BEBAS YANG KITA MILIKI, KITA BISA MENJADI KEAJAIBAN BAGI SEKELILING KITA.

Friday, November 1, 2013

Properti Bagus dan Properti Buruk

Pernah mendengar ungkapan berikut?

HANYA COWOK MISKIN YANG MENGATAKAN CEWEK ITU MATRE

Saya sempat tertawa saat membaca tulisan tersebut ketika teman saya menunjukkannya kepada saya.
Bagi saya pribadi, ungkapan itu sama sekali tidak tepat karena kata MATRE / MATERIALISTIS sendiri sudah berarti selalu menilai semuanya dari segi material dan dalam hal ini adalah uang. Jadi saya pribadi menganggap ungkapan tersebut hanya sebagai kata-kata lucu saja.

Tetapi yang menarik adalah bahwa di dalam dunia properti ternyata teknik penyajian kata-kata tersebut hampir mirip dengan yang selama ini menjadi mindset saya di dunia properti yaitu :

SEGMEN PEMBELI YANG TIDAK TEPAT AKAN MENGATAKAN PROPERTI YANG KITA PASARKAN TIDAK TEPAT UNTUK MEREKA.

Segmen yang tidak tepat di sini bisa berarti tidak tepat dari sisi harga, selera, dll sehingga segmen tersebut sering memberikan istilah properti yang buruk (untuk mereka)

Ada banyak alasan pribadi dari setiap pembeli untuk tidak membeli suatu properti dimana artinya JIKA SEGMEN PEMBELINYA TEPAT TENTU DIA AKAN MENGATAKAN PROPERTI YANG KITA PASARKAN TEPAT UNTUK YANG BERSANGKUTAN.

Jadi bisa kita tarik kesimpulan :

TIDAK ADA PROPERTI YANG TIDAK TEPAT SEJAUH KITA MEMASARKAN PROPERTI TERSEBUT KE SEGMEN YANG TEPAT.

Dengan mindset tersebut di atas, sebagai agen properti tentu tidak akan lagi beranggapan ada properti yang buruk atau tidak tepat melainkan SELALU MENCARI SEGMEN YANG TEPAT untuk setiap properti yang dipercayakan kepada agen properti yang bersangkutan.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca.

Sunday, October 20, 2013

BERAWAL DARI MINDSET

2012 adalah tahun spesial buat saya pribadi. Akhir tahun 2012 saya kembali menggeluti bidang bisnis baru yang sama sekali berbeda dari bidang bisnis saya sebelumnya. Jika sebelumnya saya menggeluti bidang bisnis IT maka pada tahun 2012 saya menggeluti bidang bisnis Property Agent.

Perubahan bidang bisnis ini juga bukan hal baru bagi saya tetapi kembali saya menemukan satu kenyataan yang mempertegas pemahaman saya bahwa APAPUN BIDANG BISNISNYA, SEMUA BERAWAL DARI MINDSET.

Perbedaan bidang bisnis ini otomatis juga menuntut mindset yang berbeda. Dalam bidang Property Agent, mindset yang pertama kali harus dimiliki oleh seorang Property Agent adalah :

Saya adalah seorang Property Agent. Tugas saya adalah MEMASARKAN properti yang DIPERCAYAKAN kepada saya kepada SEGMEN YANG TEPAT.

Jika kita perhatikan mindset di atas, maka kita bisa menemukan 3 poin penting sebagai berikut :

1. Tugas seorang Property Agent adalah MEMASARKAN (BUKAN sekedar MENJUAL).

2. Seorang Property Agent harus menyadari bahwa listing yang harus dipasarkan merupakan bentuk KEPERCAYAAN dari pemilik properti kepada Property Agent yang bersangkutan.

3. Setelah dipercaya untuk memasarkan properti oleh pemilik properti, Tugas seorang Agent Property adalah MENEMUKAN SEGMEN YANG TEPAT untuk mendapatkan peminat atas properti tersebut.

Jika melihat definisi mindset sendiri (sikap mental yang mapan yang mempengaruhi pola pikir dan perilaku seseorang) maka sudah seharusnya seorang Property Agent benar-benar concern dalam memahami bahkan menghayati mindset tersebut.

Dan jika kita sepakat pada judul dari artikel ini (Berawal Dari Mindset) maka kita juga sepakat bahwa mindset yang benar merupakan awal yang benar dan awal yang benar akan memberikan pola pikir dan perilaku yang benar, demikian pula sebaliknya.

Semoga artikel singkat ini bermanfaat buat anda.

Monday, December 13, 2010

Pekerjaan dan Kemuliaan Tuhan

Bila ku renungkan
Betapa beruntungnya diriku
Ku dapat mengenalMu
dan merasakan kasihMu

Bila ku bayangkan
Mengapa Kau menyelamatkanku
Ku bersyukur selalu
Kau ada dalam hidupku

Walau saat ini dunia tak mengerti
Mengapa hatiku mengasihiMu
Suatu saat nanti pasti kan terbukti
Kau pilihan terbaikku

******

Pagi ini saya tersentuh dengan lagu yang dinyanyikan oleh Nikita, mantan penyanyi cilik yang sekarang sudah beranjak remaja.

Satu hal yang seringkali lupa saya syukuri bahwa betapa beruntungnya saya mengenal Tuhan, mengerti dan merasakan kasihNya. Hal ini sepintas terlihat biasa-biasa saja tetapi saya jadi merinding jika membayangkan bagaimana halnya jika saya tidak mengenal Tuhan dan suaraNya melalui nurani saya.

Terbayang betapa kerasnya hidup di saat ini. Kualitas hasil pekerjaan yang seharusnya menjadi tujuan dari pekerjaan dan sebagai karya yang membanggakan dan digunakan untuk memuliakan Tuhan sudah tergeser oleh uang sebagai tujuan dari pekerjaan.

Tidak jarang karena tujuan-tujuan tersebut timbul perselisihan yang tidak seharusnya terjadi. Hasil pekerjaan yang seharusnya kembali kita gunakan untuk memuliakan Tuhan malah menjadi bumerang saat menjadi sumber perselisihan.

Tidak jarang karena ingin secepatnya mendapatkan uang dalam jumlah tertentu, malah kadang-kadang dalam jumlah sebanyak-banyaknya, seseorang melakukan jalan-jalan pintas yang jelas tidak berada di jalan yang dikehendaki Tuhan.

Mengingat itu semua sekalipun merinding sekaligus juga saya bersyukur bahwa saya masih diberi keberuntungan mengenal Tuhan dan selalu melakukan refresh terhadap tujuan pekerjaan saya untuk kembali kepada tujuan semula yaitu berkarya dan memuliakan Tuhan.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa uang juga diperlukan, tetapi puji Tuhan hingga saat ini saya diberikan pengertian bahwa uang merupakan besaran nilai karya saya dan kualitas diri saya, bukan tujuan utama. Semakin berkualitas hasil karya saya dan semakin berkualitas diri saya, maka penghargaan yang seringnya berupa uang ini akan meningkat dengan sendirinya. Sehingga, saat ini, saya masih berpandangan bahwa jika ingin lebih sejahtera, maka yang perlu ditingkatkan adalah kualitas diri saya dan ini akan berdampak pada meningkatnya kualitas hasil karya saya dan semakin berkualitas hasil karya seseorang akan semakin berharga pula hasil karya tersebut.

Semoga sampai nanti saya masih bisa tetap diperkenankan mengenal Tuhan dan berjalan di jalan yang dikehendaki olehNya. Semoga saat saya bekerja saya masih tetap berorientasi untuk memuliakan Tuhan melalui cara kerja dan hasil karya pekerjaan saya, walaupun mungkin terlihat tidak lazim di jaman sekarang ini.......

"Walau saat ini dunia tak mengerti
Mengapa hatiku mengasihiMu
Suatu saat nanti pasti kan terbukti
Kau pilihan terbaikku"

Thx GOD!

Monday, March 8, 2010

Beyond The Customer Satisfaction

Apa itu Beyond The Customer Satisfaction? Terlebih dahulu perlu kita samakan persepsi bahwa istilah ini muncul dengan mindset What's next dalam konteks Continuous Improvement. Istilah ini mengisyaratkan bahwa ada hal-hal baru pasca "Customer satisfaction". Beyond The Customer Satisfaction (BTCS) adalah sikap mental kita dalam usaha meningkatkan kepuasan pelanggan dengan menggunakan sudut pandang pelanggan itu sendiri.

Cara memandang BTCS ini sudah digunakan oleh beberapa perusahaan di Indonesia seperti misalnya ice cream walls yang meluncurkan produk barunya yaitu tas ice cream yang mampu mengurangi proses pencairan ice cream. Sudah menjadi rahasia umum bahwa saat kita mempertimbangkan untuk membeli ice cream, di supermarket misalnya, maka kita juga mempertimbangkan waktu tempuh kita untuk sampai ke rumah. jika waktu tempuh kita lama, tentunya kita tidak akan membeli ice cream tersebut karena pasti akan cair dan tidak enak dimakan saat kita sampai di rumah.

Di sisi lain, posisi walls adalah produsen ice cream yang biasanya hanya berpikir mengenai kepuasan distributor dan reseller-nya (pelanggan tingkat 1), tetapi dalam kasus ini walls memikirkan perilaku end user dari produknya dimana sebenarnya posisi pelanggan end user ini ada di posisi pelanggan tingkat 2 atau bisa dikatakan pelanggannya para pelanggan tingkat 1 atau bisa dikatakan lagi pelanggannya pelanggan. Untuk hal ini saya coba berikan istilah bahwa ice cream walls sudah mempunya cara memandang "Beyond The Customer Satisfaction is Customer's Customer Satisfaction".

Sebagai catatan, saya menyebutkan nama perusahaan dan merk-nya tidak lain hanya merupakan apresiasi saya terhadap apa yang dilakukan oleh yang bersangkutan serta dalam upaya mempermudah pemahaman atas tulisan ini, tanpa bermaksud melakukan promosi atau kepentingan lainnya.

Apa yg dilakukan oleh walls ini menginspirasi kita untuk mulai berpikir bahwa untuk bisa tampil beda tentu kita harus selalu siap berubah dimana perubahan tersebut, salah satunya, bisa dimulai dengan melakukan definisi ulang atau redefine dari stakeholder kita. Jika semula, misalnya, stakeholder kita meliputi people, customer dan shareholder, maka pada poin customer ini yang perlu kita definisikan lebih luas lagi meliputi, customer dan customer's customer (pelanggannya pelanggan).

Dari keseluruhan catatan di atas, kita bisa belajar dan mulai menguji paradigma kita yang ada saat ini. Jika sebelumnya kita mempunyai paradigma "Kita harus selalu siap untuk berubah", maka dengan adanya catatan di atas, kita harus mempunyai pandangan "Seberapa cepat kita bisa berubah?"

Dan kembali lagi, fokus utama dari paradigma baru ini tentu saja kemampuan SDM yang ada saat ini. Seberapa cepat SDM bisa berubah?

Tuesday, December 8, 2009

3 X 8 = 23?

Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya baik. ada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumunin banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.

Pembeli berteriak: "3×8 = 23, kenapa kamu bilang 24?"

Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: "Sobat, 3×8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi."

Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: "Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan."

Yan Hui: "Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?"

Pembeli kain: "Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?"

Yan Hui: "Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu."

Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius. Setelah Confusius tau duduk persoalannya, Confusius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: "3×8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada dia."

Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar Confusius bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain. Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.

Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya. Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasehat : "Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh." Yan Hui bilang, "Baiklah," lalu berangkat pulang.

Di dalam perjalanan tiba-tiba angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba-tiba ingat nasehat Confusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti. Apakah saya akan membunuh orang? Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut malam dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai didepan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat Confusius, jangan membunuh. Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata: "Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?" Confusius berkata: "Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh". Yan Hui berkata: "Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum." Confusius bilang: "Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3×8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3×8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?"

Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : "Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu."Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.

Cerita ini mengingatkan kita: Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh dunia, tapi aku kehilangan kamu, apalah artinya. Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting. Banyak hal ada kadar kepentingannya. Janganlah gara-gara bertaruh mati-matian untuk prinsip kebenaran itu, tapi akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat.

Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan. Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.

Sunday, November 29, 2009

Shadow Side of Ethics @ Work

Shadow Side of Ethics @ Work

Apa itu Shadow Side of Ethics? Apa pula kaitannya "@ work"? Mungkin istilah ini juga buatan saya sendiri, ada baiknya kita lupakan buatan siapa istilah ini ataupun empiris atau tidaknya istilah ini ataupun populer atau tidaknya istilah ini karena sesuatu hal bisa populer toh juga karena konsensus bersama bahwa istilah itu tepat atau cocok dipakai dan generasi selanjutnya juga tinggal memakai saja dan kadang-kadang entah betul entah salah juga tinggal meneruskan memakai saja, jadi kembali ke laptop, mari kita lanjutkan ke konten atau isi yang ingin saya sampaikan dari istilah ini.


Pengertian Etika Menurut Beberapa Pakar

Drs. O. P. Simorangkir
Etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berperilaku menurut ukuran dan nilai yang baik

Drs. Sidi Gajalba
Etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal

Drs. H. Burhanudin Salam
Etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya.

Berdasarkan penjabaran dari beberapa pakar di atas, ada beberapa poin yang bisa kita petik mengenai etika, yaitu :
1. Etika adalah nilai dan norma moral
2. Etika menyangkut penilaian mengenai baik dan buruk
3. Etika menentukan atau mengarahkan perilaku manusia dalam hidupnya
4. Etika terbatas pada sejauh yang bisa ditentukan oleh akal

Jika boleh kita merumuskan ulang, maka pengertian etika berdasarkan pandangan para ahli tersebut adalah :

Etika adalah nilai-nilai dan norma-norma moral manusia dalam berperilaku dalam hidupnya dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang bisa ditentukan oleh akal.

Karena sifatnya yang berupa nilai-nilai dan norma-norma, maka biasanya etika ini tidak bisa diterapkan atau diungkapkan secara apa adanya dalam suatu aturan ataupun hukum. Oleh karena itu, etika lebih enak atau tepat untuk SAYA sebut sebagai unspokeable rules.

Makin banyak istilah? jangan bingung, karena saya tidak bermaksud menambah bingung, hanya membuat istilah sesaat saja untuk menambahkan penekanan-penekanan pada istilah-istilah yang nantinya akan coba saya sampaikan.


Shadow Side of Ethics

Pada penerapannya, etika ini juga masih dibagi 2 :
1. Etika yang pantas atau tepat untuk disampaikan
2. Etika yang tidak atau kurang pantas atau tepat untuk disampaikan

Rasanya sangat aneh bukan? sudah disebut sebagai unspokeable rules, masih juga ada yang tidak atau kurang pantas untuk disampaikan. Tetapi begitulah faktanya. Ketika etika, terutama yang tidak pantas untuk disampaikan, ini dilanggar, maka suasana juga akan tidak nyaman bagi sebagian atau bahkan semua pihak yang terlibat. Contoh dari hal ini akan bisa didapatkan di bagian selanjutnya dari tulisan ini.


Shadow Side of Ethics at Work

Apa itu Shadow Side of Ethics at Work (SSEW)?

Bisa dikatakan karena karakter dari etika adalah unspokeable rules, disisi lain, masih juga ada etika yang tidak atau kurang pantas diungkapkan, maka etika ini mempunya sisi gelap atau bayangan tersendiri. Kita ambil contoh mengenai etika dalam bekerja seperti di bawah ini.

Sudah menjadi etika dalam bekerja dan etos kerja bagi setiap pekerja bahwa ada aturan main dalam pekerjaan atau perusahaan atau kantor :
1. Rantai komando dalam suatu perusahaan mengikuti struktur organisasi
2. Perkataan atasan kepada bawahan pada hakekatnya adalah sebuah perintah dan kewajiban bagi bawahan untuk mematuhinya.

Secara pribadi bahkan ayah saya menanamkan sebuah prinsip kerja kepada saya ketika saya masih kecil yaitu "saat bekerja nanti, jadilah atasan yang baik atau bawahan yang baik, jangan nanggung karena orang yang nanggung itu pengacau".

Berdasarkan kedua hal di atas, jika boleh sekali lagi kita simpulkan atau tafsirkan, tentunya penafsiran ini dalam konteks wacana sehingga masih pantas untuk dituliskan :
1. Rantai komando di sebuah organisasi mengikuti struktur organsasi
2. Perkataan atasan adalah perintah
3. Jika diperbolehkan untuk berdiskusi, hal itu adalah karena kearifan dari seorang atasan untuk mendengarkan pendapat bawahannya. Jadi berdiskusi dengan atasan bukanlah hak sebagai bawahan melainkan karena kearifan dari seorang atasan.

Secara ekstrim, tidak ada kamusnya seorang bawahan boleh membantah, menolak, bahkan menganulir keputusan atasan. Boleh berdiskusi saja pada hakekatnya sudah bersyukur karena mempunyai atasan yang arif.

Tetapi sering sekali kita lihat di dunia kerja akan adanya perdebatan sengit antara atasan dan bawahan yang masing-masing mempertahankan konsep mereka dan masing-masing juga berbicara atas nama kebaikan perusahaan atau organisasi.

Apapun topik dan atas namanya, berdasarkan intisari etika kerja di atas, tentunya tidak pantas jika seorang bawahan berani berdebat dengan atasannya. Disini yang seharusnya terjadi, maksimal, adalah terjadinya diskusi dalam koridor sopan dan sesuai etika di dunia kerja antara atasan dan bawahan.

Di sisi lain, sesuai topik kita kali ini yaitu mengenai SSEW, jika sang atasan yang berada di dalam situasi tersebut mengingatkan secara langsung kepada bawahannya dengan mengatakan, "Saya adalah atasan anda dan ini berarti perkataan saya adalah perintah" atau dengan mengatakan, "sesuai struktur organisasi, saya adalah atasan anda, jadi hargailah itu", tentunya akan terasa tidak tepat bukan? salah-salah, sang atasan malah disebut tidak bijaksana, padahal seperti saya sampaikan tadi, membolehkan bawahan berdiskusi dengan atasan saja sebenarnya sudah merupakan kearifan seorang atasan. Inilah yang saya sebut sebagai shadow side of ethics at work.

Karena etika kerja tersebut bersifat unspokeable rules, maka etika tersebut bukanlah merupakan suatu peraturan atau hukum tetapi lebih bersifat kepada moral dari para pelaku. Dan karena moral tersebut tidak tepat untuk disampaikan secara langsung, maka sangat besar kemungkinannya bahwa pembicaraan atau diskusi atau debat menjadi tidak baik dan tidak sehat.


SOLUSI

Lalu bagaimana baiknya?
1. Tahu diri dan posisi
2. Dewasa
3. Percaya
4. Kembali ke laptop


Tahu Diri dan Posisi

Seperti kata ayah saya, "Jika bekerja nanti, jadilah atasan yang baik atau bawahan yang baik.........".

Dengan tahu diri dan posisi, baik kita ini atasan ataupun bawahan, maka semua akan berjalan baik dan semua pihak akan nyaman. Tetapi sebaliknya jika kita tidak mau tahu diri dan posisi dan melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan etika, maka bisa dipastikan akan ada pihak yang merasa tidak nyaman dengan hubungan tersebut.

Jika anda adalah seorang kepala bagian (KaBag), tentunya anda diangkat dan bertanggungjawab kepada manajer anda, manajer anda, tentunya diangkat dan bertanggungjawab kepada direktur. Direktur anda juga demikian, diangkat dan bertanggungjawab kepada komisaris.

Jika seorang manajer memberikan perintah A kepada KaBag-nya, sementara untuk kasus yang sama sang direktur memberikan perintah B kepada sang KaBag, tentunya berdasarkan rantai komando tidak akan ada keraguan bagi sang KaBag untuk mengikuti perintah sang direktur, apalagi malah sang kabag mengikuti perintah manajer dan mengabaikan perintah direktur, mengapa?
1. Secara struktural dan rantai komando jabatan seorang direktur lebih tinggi dari manajer
2. Pertimbangan dan wawasan seorang direktur tentunya lebih baik daripada seorang manajer, sehingga sudah sewajarnya jika seorang direktur memiliki lebih banyak parameter didalam pengambilan suatu keputusan, apalagi menyangkut intervensi. Sehingga jika seorang direktur memutuskan melakukan intervensi terhadap keputusan pejabat di bawahnya, tentunya sang direktur memandang itu perlu dan sang bawahan harus tahu diri dan posisi.

Seperti halnya di dalam sebuah tubuh yang sehat, masing-masing memiliki fungsi dan masing-masing memiliki strata sesuai aturannya. Jika tangan melawan perintah otak, tentunya bisa disebut bahwa tubuh sudah tidak sehat, pada khususnya, tangan tersebut sakit. Jika sakit sudah tidak bisa disembuhkan, tentunya seorang dokter yang baik juga akan merekomendasikan untuk diamputasi saja daripada tangan tersebut membahayakan keseluruhan tubuh, bahkan jiwa pemiliknya atau bahkan jiwa orang lain. Demikian juga di dalam sebuah organisasi. Jika ada 1 komponen yang berjalan di luar fungsi dan stratanya, tentunya komponen tersebut bisa dikatakan sakit. Jika sakit berlanjut terus dan tidak bisa disembuhkan, tentunya mau tidak mau komponen tersebut harus diamputasi karena bisa membahayakan keseluruhan organisasi.


Dewasa

Bagaimana bisa tahu diri dan posisi? tentunya dengan kedewasaan. Hanya orang yang telah dewasa yang bisa berbesar hati, baik untuk tahu diri, posisi maupun bersikap dewasa sesuai dengan posisi ketika sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi.

Dengan kedewasaan kita bisa memisahkan mana permasalahan profesional kerja dan mana yang merupakan masalah pribadi sehingga kita tidak larut dalam emosi dimana akibatnya bisa saja seorang atasan memutuskan keputusan profesional dengan berlandaskan pada alasan pribadi atau sebaliknya seorang bawahan akan menerima keputusan dari atasannya dan bertindak sebagai seorang profesional dengan tidak mengaitkannya dengan permasalahan pribadi dari sang atasan.


Percaya

Seringkali ada keluhan dari seorang bawahan kepada atasannya (dan keluhan-keluhan lain yg senada), "Atasanku sering sekali main dan minum di bar, apa pantas omongannya saya dengarkan?".

Ini namanya mencampuradukkan urusan profesional dengan urusan pribadi. Kalau disebutkan dia atasan, berarti konteksnya adalah konteks profesional, tetapi mengapa di belakangnya sang bawahan mengatakan bahwa karena sang atasan sering minum di bar sehingga dia mempertanyakan kata-kata atasannya?

Perkara atasan sering minum di bar apa hubungannya dengan profesional pekerjaan, dalam hal ini perkataan dari sang atasan? Apakah karena alasan pribadi tersebut berarti kita boleh mengabaikan rantai komando seperti dalam struktur organisasi?

Mentalitas yang perlu dimiliki oleh bawahan dalam hal ini adalah PERCAYA.

Jika anda adalah bawahan, saya menganjurkan untuk percaya kepada atasan anda. Bekerja tanpa rasa percaya kepada atasan adalah percuma dan jelas salah. Jika memang anda tidak percaya kepada atasan anda, lebih baik anda mengundurkan diri dan mencari perusahaan dengan pimpinan yang bisa anda percaya. Jika tidak ada satupun atasan yang bisa anda percaya di dunia ini, jalan termudahnya adalah anda harus mendirikan perusahaan anda sendiri dan andalah atasan di perusahaan tersebut. Mudah bukan?


Kembali ke Laptop

Pada akhirnya kita kembali ke laptop :
1. Perusahaan adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan yang sama dan masing-masing menyadari hanya bisa mencapai tujuan tersebut dengan bekerjasama.
2. Etika atau etos kerja tidak lain hanya tuntunan moral yang diharapkan menjadikan perilaku setiap komponen dari perusahaan menjadi lebih baik dan membuat rekan seperusahaan menjadi nyaman dalam bekerja.
3. Kedewasaan sangat menentukan setiap keputusan dan perilaku anda sehari-hari dalam bekerja.
4. Hei.....kita mencari makan di dalam sebuah perusahaan yang sama kan? so, mari kita ciptakan lingkungan kerja yang terpimpin dan lebih nyaman sehingga produktivitas meningkat dan kesejahteraan meningkat. Itu yang anda harapkan bukan?

Have a nice day for work...................

Thursday, April 24, 2008

Kriteria SIM RS Yang Baik


Berbicara mengenai pemanfaatan SIM RS tentu tidaklah lepas dari kualitas dari SIM RS tersebut atau tidak lepas dari pertanyaan seperti apakah SIM RS yang baik itu?

Banyak sekali kajian mengenai SIM RS yang baik sehingga terkadang sebagai orang yang awam terhadap teknologi, pihak rumah sakit sering merasa bingung. Cara termudah dalam mendefinisikan kriteria SIM RS yang baik tentunya adalah dengan menggunakan ukuran dari pihak rumah sakit sendiri terutama dalam hal tujuan atau alasan mengapa sebuah rumah sakit ingin memanfaatkan SIM RS yaitu manfaatnya. Jadi tentu saja SIM RS yang baik kriterianya hanya ada 1 yaitu bisa dimanfaatkan. Sebuah SIM RS akan dikatakan bisa dimanfaatkan tentu saja jika bisa diterapkan atau diaplikasikan atau applicable.

Dari kesepakatan SIM RS yang baik adalah SIM RS yang applicable ini, kita bisa menjabarkannya lagi dengan lebih detil. Suatu SIM RS bisa dikatakan applicable bila :

  1. SIM RS tersebut sesuai dengan kebutuhan rumah sakit
  2. SIM RS tersebut mampu dikembangkan sesuai perkembangan rumah sakit dan teknologi
  3. SIM RS tersebut mampu memuaskan kebutuhan para stakeholder-nya.

SIM RS Sesuai Dengan kebutuhan Rumah Sakit

SIM RS yang baik tentu saja adalah SIM RS yang mampu memperlakukan sebuah rumah sakit secara personal. Walaupun secara garis besar proses bisnis di rumah sakit adalah sama, tetapi tidak ada rumah sakit yang sama persis satu sama lainnya. Sekalipun renstra dan perencanaan bisnis sebuah rumah sakit mempunyai kesamaan dengan rumah sakit lain, tetapi pelaku dari renstra (SDM), perilaku dari pasien di suatu daerah dan beberapa parameter lainnya pasti mempunyai keunikan tersendiri. Oleh sebab itu, SIM RS yang baik akan dibangun sesuai dengan kebutuhan rumah sakit yang bersangkutan.

Berdasarkan hal tersebut di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa SIM RS yang baik bukanlah SIM RS yang berupa paket program aplikasi yang bersifat fix atau tidak bisa dikustomisasi melainkan SIM RS yang bersifat customized atau bahkan tailor made.

Tentu saja untuk mendapatkan SIM RS yang baik ini juga perlu diperhatikan pengaruhnya terhadap harga SIM RS tersebut. Sebagai perbandingan dari permasalahan harga SIM RS ini adalah jika kita membeli baju yang bersifat mass production akan jauh lebih murah jika dibandingkan ketika kita membeli baju di butik dimana sebuah butik akan membuat baju sesuai dengan keinginan dari si pembeli.

Ada yang perlu diperhatikan mengenai masalah harga ini, yaitu bahwa harga yang dikeluarkan oleh sebuah rumah sakit untuk mendapatkan sebuah SIM RS yang berkualitas bukan berarti harus mahal melainkan harus fair. Harga yang fair disini tentunya adalah harga yang sesuai dengan services yang akan diterima oleh pihak rumah sakit.

Ketika kita berbicara mengenai harga yang fair, kita tidak akan berbicara mengenai produknya melainkan mengenai nilainya bagi sebuah rumah sakit. Jika dirumuskan nilai dari sebuah SIM RS bagi sebuah rumah sakit adalah sebagai berikut :

Nilai = Manfaat - Pengorbanan

Rumusan ini menimbulkan beberapa pernyataan sebagai berikut :

  • Semakin besar manfaat yang didapatkan rumah sakit dari sebuah SIM RS beserta services dari penyedia SIM RS, semakin besar pula nilainya bagi sebuah rumah sakit.
  • Semakin berpengalaman sebuah penyedia SIM RS akan berakibat pada peningkatan efektifitas dan efisiensi kinerja penyedia SIM RS sehingga tercipta biaya yang lebih rendah untuk produk SIM RS
  • Semakin berkarakter customer focus-nya sebuah penyedia SIM RS akan menambahkan services kepada pelanggannya (dalam hal ini adalah rumah sakit) dengan harga yang tetap karena adanya peningkatan efektifitas dan efisiensi kinerja.

Dari beberapa pernyataan di atas kita bisa melihat bahwa begitulah rumusan mengenai harga yang fair untuk sebuah SIM RS bagi sebuah rumah sakit. Jika sebuah penyedia SIM RS telah memahami dan melakukan rumusan-rumusan tersebut, bisa dipastikan bahwa jika tetap harus terjadi kenaikan harga, maka berkaitan dengan karakter customer focus dari penyedia SIM RS tersebut, kenaikan harga tersebut tentunya adalah untuk suatu alasan yang jelas yang bertujuan memberikan nilai dan manfaat yang lebih bagi pelanggan.

SIM RS mampu dikembangkan sesuai perkembangan rumah sakit dan teknologi

Mengingat SIM RS merupakan integrasi dari Sistem Informasi, Teknologi Informasi dan Manajemen informasi, maka SIM RS yang baik juga harus mampu berkembang sesuai dengan perkembangan rumah sakit dan juga perkembangan teknologi.

Hal inilah yang menyebabkan pengembangan SIM RS dikatakan sebagai never ending development. Selama proses bisnis rumah sakit masih berkembang dan selama teknologi masih terus berkembang, maka SIM RS harus terus berkembang.

Sebagai contoh SIM RS harus mampu mengikuti perkembangan rumah sakit adalah ketika sebuah rumah sakit menetapkan kebijakan strategis mengenai CRM (Customer Relational Management), tentunya SIM RS harus bisa dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Sebagai contoh SIM RS harus mampu mengikuti perkembangan teknologi adalah ketika lahir teknologi SMS, maka penyedia SIM RS tentunya juga harus berpikir bagaimana lahirnya teknologi SMS ini bisa dimanfaatkan oleh sebuah rumah sakit baik di dalam melayani pasien, potential customer, dokter maupun pihak-pihak lainnya.

Bagi sebuah penyedia SIM RS, perkembangan-perkembangan tersebut harus mampu diserap dengan cepat untuk mampu terus mengembangkan produknya. Untuk itulah sebuah penyedia SIM RS yang baik juga harus menjalin kerjasama yang bersifat strategis dengan berbagai kalangan bisnis (konsultan kesehatan, penyedia solusi untuk perangkat keras, networking dan teknologi lainnya, dll) untuk menghasilkan solusi total (total solution) bagi sebuah rumah sakit (value chain).

Ketika sebuah penyedia SIM RS berpendapat bahwa solusi bagi SIM RS bisa dilakukan sendiri tanpa adanya network (value chain) atau sebuah penyedia SIM RS berpendapat bahwa dengan berdiri sendiri (stand alone) penyedia SIM RS tersebut mampu memberikan total solution bagi sebuah rumah sakit, tentunya pihak rumah sakit akan sangat wajar untuk mempertanyakan validitas dari pernyataan penyedia SIM RS tersebut.

SIM RS mampu memuaskan kebutuhan para stakeholder-nya

Kriteria terakhir SIM RS yang baik adalah bahwa SIM RS tersebut harus mampu memuaskan kebutuhan para stakeholder-nya yang terdiri dari :

  1. People (Penguna/User SIM RS)
  2. Customer (Pasien)
  3. Shareholder (Pihak manajemen, pemerintah daerah, dll)

Tantangan bagi sebuah penyedia SIM RS adalah dalam hal untuk aligning stakeholder satisfaction karena kebutuhan dari setiap stakeholder tersebut berlainan bahkan bertentangan dalam hal melakukan desain sebuah SIM RS.

Kebutuhan dari People (Penguna/User SIM RS) adalah bagaimana pekerjaan mereka dipermudah dan dipercepat. Ini berarti adalah masalah bagaimana SIM RS meningkatkan user friendly dan mengurangi penggunaan perangkat tambahan yang memperlambat kerja mereka serta meminimalkan seminimal mungkin data pasien dan transaksi yang harus diisi oleh user.

Kebutuhan dari Customer (Pasien) adalah bagaimana mereka bisa dilayani dengan cepat disertai dengan detil billing yang jelas dan akurat. Ini berarti adalah masalah meningkatkan process execution time yang dilakukan oleh people (Penguna/User SIM RS).

Kebutuhan dari Shareholder (Pihak manajemen, pemerintah daerah, dll) tentunya adalah informasi yang bersifat real time, akurat dan lengkap. Ini berarti data yang diisi oleh people (Penguna/User SIM RS) harus lengkap.

Berdasarkan karakterisitik kebutuhan setiap stakeholder dari SIM RS yang bertentangan itulah yang melahirkan tantangan bagi sebuah penyedia SIM RS untuk tidak memfokuskan pada pemuasan kebutuhan salah satu stakeholder saja melainkan lebih pada aligning stakeholder satisfaction.

Disini pengalaman (experiences), pengetahuan (knowledge), jaringan bisnis (network) dan keinginan untuk membantu (compassion) dari sebuah penyedia SIM RS akan berperan sangat besar.

Tuesday, April 22, 2008

"Pembiasan" Perilaku Konsumen SIM RS

Seiring berjalannya mekanisme pasar, khususnya dalam pasar SIM RS, perilaku konsumen semakin terpengaruh dengan bertambahnya jumlah penyedia SIM RS. Semakin bertambahnya pilihan akan SIM RS membuat para konsumen SIM RS, dalam hal ini adalah rumah sakit - rumah sakit di Indoensia, semakin berpersepsi bahwa SIM RS yang tersedia di pasar pada akhirnya sama dengan barang - barang lainnya yang pada akhirnya membawa para konsumen SIM RS untuk memperlakukan SIM RS sama seperti mereka memperlakukan barang lainnya.

Perilaku ini tercermin salah satunya adalah dalam proses negosiasi pembelian SIM RS dimana para konsumen SIM RS berorientasi pada harga dibandingkan pada kualitas baik kualitas produk maupun services-nya.

Memang pada umumnya mekanisme pasar akan berlangsung seperti hal yang saya sebutkan di atas, tetapi jika mencermati pasar penyedia SIM RS sendiri sebenarnya pihak konsumen SIM RS harus lebih aware dan selektif dalam memilih dan memperlakukan produk-produk SIM RS tersebut. Tidak semua produk SIM RS yang ditawarkan adalah produk yang disertai dengan services dan tidak semua penyedia SIM RS memberikan paket services dalam menawarkan produk SIM RSnya.

Namun jika dilihat dari faktor perilaku penyedia SIM RS sendiri sangatlah wajar jika perilaku konsumen SIM RS memperlakukan produk SIM RS yang ditawarkan sama seperti mereka memperlakukan barang lainnya. Hal ini disebabkan karena perilaku penyedia SIM RS sendiri yang bisa dikatakan negatif, seperti misalnya penyedia SIM RS menjanjikan adanya paket services ketika menawarkan produk SIM RSnya, tetapi ternyata mereka tidak menepati janji-janji atau komitmen mereka.

Sekalipun hal ini adalah hal yang wajar tetapi bukan berarti hal ini benar dan baik bagi para konsumen SIM RS. Mengapa? kita ambil saja contoh seperti contoh pertama di atas. Kita andaikan bahwa ada beberapa produk SIM RS yang ditawarkan oleh beberapa penyedia SIM RS ke sebuah rumah sakit. Karena pihak rumah sakit sendiri sudah menganut konsep bahwa SIM RS saat ini sudah banyak tersedia di pasaran dan karena sudah banyak tersedia tentunya harganya akan menurun, maka pihak rumah sakit mulai berorientasi kepada harga. Hal ini tentunya menyebabkan penyedia SIM RS yang memperhitungkan biaya untuk memberikan pelayanan lebih kepada pihak rumah sakit akan kalah dalam persaingan harga dibandingkan penyedia yang tidak memberikan services atau yang hanya menjanjikan services belaka. Dari kejadian ini, tentunya pada akhirnya pihak rumah sakit akan mendapatkan produk SIM RS yang tidak atau kurang berkualitas dan imbasnya tentunya akan ditanggung oleh rumah sakit tersebut. Pada jangka panjangnya rumah sakit akan menuai banyak dampak negatif dari peristiwa ini, seperti investasi SIM RS yang sia-sia, SDM yang menjadi resist terhadap solusi aplikasi, brand rumah sakit tersebut yang menurun karena pelayanan yang makin menurun, dsb.


SOLUSI BAGI RUMAH SAKIT

Proses pembelian SIM RS sebaiknya dilakukan dengan melakukan assessment terhadap kebutuhan rumah sakit akan SIM RS. Hasil dari assessment tersebut tentunya bisa ditindaklanjuti dengan menentukan model SIM RS yang dibutuhkan oleh rumah sakit. Setelah model SIM RS yang dibutuhkan ditentukan, barulah rumah sakit membuka pintu terhadap penyedia-penyedia SIM RS untuk dinilai oleh rumah sakit.

Tidak semua rumah sakit membutuhkan SIM RS yang disertai paket services saat ini juga, walaupun secara idealnya paket services tersebut sangat menarik bagi sebuah rumah sakit. Kebutuhan akan services akan berbanding lurus dengan kebutuhan akan biaya untuk mendapatkan services tersebut. Tentunya dengan mengingat hal ini, sebuah rumah sakit harus berhitung-hitung dengan cermat untuk menentukan apakah sudah saatnya membutuhkan services atau masih bsia ditunda. Dalam hal kebutuhan akan services memerlukan penundaan, tentunya pihak rumah sakit harus mencari penyedia SIM RS yang mempunyai dan berkomitmen akan janji servicesnya serta sudah mempunyai produk SIM RS yang sudah jadi dan terbukti telah digunakan di banyak rumah sakit sehingga kebutuhan akan services, terutama services untuk penyesuaian produk, bisa dijadwalakan di masa mendatang.


HIMBAUAN BAGI PENYEDIA SIM RS

Tidak ada salahnya ketika sebuah penyedia SIM RS tidak memberikan paket services karena pasar pengguna SIM RS juga mempunyai segmen-segmen tersendiri. Ketika sebuah penyedia SIM RS mempunyai strategi untuk tidak menyediakan paket services tentunya mereka harus menentukan segmen rumah sakit yang tidak membutuhkan paket services pada produk SIM RS yang akan mereka manfaatkan.

Memberikan janji palsu akan merugikan, secara mikro, penyedia itu sendiri, secara makro, memberikan pembelajaran yang negatif atau trauma kepada rumah sakit - rumah sakit di Indonesia yang berimbas pada timbulnya persepsi yang keliru akan penyedia-penyedia SIM RS lainnya dan pada akhirnya akan menimbulkan "Pembiasan" perilaku konsumen SIM RS.

Kita perlu kembali pada hakekat pemasaran yaitu "membantu pelanggan membeli", bukannya "menjual sebanyak mungkin".

Suatu ketika saya pernah terlibat dalam pembicaraan mengenai kesepakatan pembelian produk SIM RS dengan perusahaan tempat saya bekerja. Hasil akhir dari pembicaraan tersebut adalah SIM RS yang diinginkan oleh rumah sakit tersebut tidak sesuai dengan SIM RS yang saya tawarkan karena mereka belum membutuhkan services saat ini terkait dengan kemampuan rumah sakit tersebut. Dalam hal ini saya hanya mengatakan yang sebenarnya kepada direktur rumah sakit tersebut bahwa produk yang saya tawarkan ternyata tidak sesuai dengan yang rumah sakit inginkan.

Selanjutnya saya menawarkan kalau beliau bersedia saya mempunyai beberapa rekan yang mempunyai produk SIM RS yang mungkin sesuai dengan harapan beliau dan jika beliau juga mempunyai beberapa alternatif penyedia SIM RS yang lain saya bersedia membantu untuk melakukan assessment terhadap penyedia-penyedia SIM RS tersebut.

Cerita ini bukan untuk pamer atau meninggikan diri, tetapi merupakan harapan bahwa para penyedia SIM RS akan bersama-sama secara positip membangun iklim bisnis yang sehat di pasar SIM RS dengan harapan akan turut membangun budaya dan persepsi yang baik di kalangan konsumen SIM RS itu sendiri.

Thursday, May 3, 2007

Change Management Pada Implementasi SIM RS

Change Management Pada Implementasi SIM RS
Pada dasarnya implementasi SIM RS bisa dikatakan sebagai implementasi perubahan karena SIM RS sendiri pada implementasinya membutuhkan shifting paradigm.Shifting paradigm pada implementasi SIM RS adalah :
1. Hard technology menjadi smart technology
2. Labor menjadi knowledge worker
Perbandingan antara Hard technology dengan smart technology bisa dianalogikan dengan perbandingan antara kalkulator mewakili Hard technology dengan komputer mewakili smart technology. Kalkulator adalah teknologi untuk suatu fungsi yang spesifik yaitu sebagai alat bantu perhitungan. Sedangkan komputer adalah teknologi yang tidak hanya untuk suatu fungsi yang spesifik melainkan untuk berbagai fungsi dimana batasan fungsi yang bisa dimanfaatkan dari komputer adalah tergantung dari kemampuan pengguna komputer untuk memanfaatkannya.
Pada dasarnya SIM RS adalah smart technology karena karakter SIM RS dalam hal besar kecilnya manfaat bagi pengguna tergantung dari pengetahuan dari pengguna dalam memanfaatkannya. Semakin banyak pengetahuan yang dimiliki pengguna dalam memanfaatkan SIM RS, semakin besar manfaat yang didapatkan.
Dari karakter SIM RS yang merupakan smart technology tersebut, maka pergeseran paradigma mengenai SIM RS / smart technology ini juga berdampak pada kebutuhan pengetahuan pada penggunanya, Dampak ini juga disebut sebagai pergeseran paradigma yaitu dari semula labor menjadi kebutuhan akan knowledge worker.
Dengan adanya dua pergeseran paradigma ini, maka bisa disebut bahwa implementasi SIM RS merupakan implementasi suatu perubahan dimana untuk mencapai keberhasilan pada implementasi suatu perubahan diperlukan pengelolaan perubahan (change management).
Change Management Pada Implementasi SIM RSPengelolaan perubahan pada implementasi SIM RS meliputi :
1. Change Planning (Perencanaan Perubahan)
2. Change Organizing (Pengorganisasian Perubahan)
3. Change Actuating (Pelaksanaan perubahan)
4. Change Controlling (Pengendalian perubahan)
Pada tahap perencanaan perubahan, perlu direncanakan tahapan – tahapan dari perubahan yang akan dilakukan, dalam hal ini adalah implementasi SIM RS. Perencanaan tersebut antara lain :
1. Modul-modul yang akan diimplementasikan
2. Tahapan-tahapan dalam implementasi modul-modul SIM RS
3. Penentuan kemenangan-kemenangan kecil untuk menghindari kelelahan pelaku perubahan dalam mencapai tujuan akhir perubahan. Kemenangan – kemanangan kecil ini biasanya berupa goal dari setiap tahapan implementasi SIM RS
4. Jadwal / time frame dan rencana kegiatan yang jelas dan terukur pada setiap tahapan implementasi SIM RS
5. Contingency Plan pada setiap tahapan implementasi SIM RS
Pada tahap pengorganisasian perubahan, ditetapkan siapa yang memimpin dan bertanggungjawab pada setiap tahapan implementasi SIM RS serta perlu ditetapkan job description beserta positioning yang jelas dari setiap pelaku perubahan.
Pada tahap pengorganisasian ini biasanya ditandai dengan pembentukan tim komputasi dari pihak rumah sakit yang merupakan partner internal dari penyedia SIM RS ketika menjalankan implementasi SIM RS nantinya.
Mengingat besarnya konsekuensi jika terjadi kegagalan pada implementasi SIM RS ini, diperlukan kejelian untuk mengetahui kompetensi dari masing-masing personil untuk kemudian menempatkan SDM tersebut pada suatu posisi dalam tim komputasi sehingga didapatkan right man in the right place.
Tahapan selanjutnya adalah tahap pelaksanaan perubahan, dimana tahapan ini merupakan tahap pelaksanaan dari perencanaan perubahan oleh person-person yang telah ditentukan pada tahapan pengorganisasian perubahan. Leadership dan proses pemelajaran sangat berperan dalam tahapan ini.
Pada tahap pengendalian perubahan dilakukan kegiatan pengendalian perubahan dengan cara memastikan perubahan yang dilakukan sesuai dengan rencana. Feedback yang ada pada saat perubahan dijalankan dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk kemudian dikembalikan dalam bentuk strategi baru atau perbaikan-perbaikan pada pelaksanaan perubahan ini.
Sebagai kegiatan pendamping dari 4 kegiatan perubahan di atas, diperlukan beberapa hal berikut ini :
1. Adanya sharing visi maupun informasi yang cukup dan jelas mengenai perubahan yang akan dilakukan kepada setiap personil untuk menghindari perilaku resist akibat adanya ketakutan akan perubahan karena ketidaktahuan atau kekurangan informasi
2. Adanya kompetensi yang cukup untuk melaksanakan perubahan
3. Adanya reward and punishment yang jelas dan fair
4. Ketersediaan resources yang cukup untuk menjalankan perubahan
Ketika perubahan sudah menjadi konsensus bersama dari setiap personil dalam sebuah rumah sakit, maka bisa dipastikan kemungkinan besar perubahan tersebut akan berhasil untuk dijalankan.

SIM RS, Pasar Yang Mulai Beranjak Dewasa

SIM RS, Pasar Yang Mulai Beranjak Dewasa
Pada tahun 2005 sampai dengan awal tahun 2006, pihak rumah sakit sempat dibuat bingung ketika mereka hendak memilih vendor atau penyedia SIM RS yang sesuai dengan harapan mereka. Saat itu memang rumah sakit - rumah sakit di Indonesia sudah mulai mengerti akan manfaat SIM RS dan mereka berniat memanfaatkan SIM RS untuk membantu kinerja mereka. Hanya saja sayangnya keinginan dari rumah sakit - rumah sakit tersebut terganjal dengan masih carut-marutnya pasar penyedia sim rs di Indonesia. Akibatnya, tidak sedikit rumah sakit yang memilih membeli sim rs dari luar negeri dan akibat jangka panjangnya ada sedikit rasa under estimate dari rumah sakit - rumah sakit di Indonesia terhadap karya anak bangsa.
Berdasarkan fakta yang telah terjadi selama ini, wajar saja jika para rumah sakit di Indonesia under estimate terhadap para penyedia sim rs di Indonesia, mengapa?
1. Banyak sekali para penyedia SIM RS yang menganut asas hit n run. Asas ini maksudnya adalah, vendor datang menawarkan sim rs dan ketika rumah sakit tertarik dan sudah teken kontrak, maka vendor ini akan memberikan pelatihan "secukupnya" dan ketika pembayaran telah dilunasi, vendor ini tidak memberikan purna jual yang memuaskan. Padahal ketika kita bicara sim rs sebagai solusi maka asas hit n run ini bisa dibilang "haram" di pasar sim rs level corporate yang cenderung bermain di level services bukan di level product selling ataupun mass production.
2. Banyak sekali penyedia sim rs yang belum mengenal segmen dari bidang usaha mereka. Hal ini terlihat ketika sebuah rumah sakit membutuhkan sebuah produk berkualitas, dimana ketika kita berbicara kualitas maka konsekuensinya adalah services dan harga yang sepadan, ada saja penyedia sim rs yang masih menawarkan mass production dan dengan harga yang sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak penyedia sim rs yang belum mengetahui dengan jelas di segmen mana mereka berada.
3. Banyak sekali penyedia sim rs yang merasa bahwa sim rs adalah pekerjaan IT, sehingga mereka membangun sim rs tanpa adanya konsultan. Hal ini terlihat jelas dari produk sim rs yang ditawarkan dimana pada saat perancangan, penyedia sim rs hanya melihat kebutuhan saat ini, sehingga ketika sim rs tersebut digunakan oleh sebuah rumah sakit, sim rs tersebut mengalami kesulitan untuk dikembangkan. akibatnya pihak rumah sakit harus bersusah payah ketika kebutuhan akan pengembangan sim rs terjadi.
Ketiga contoh di atas hanya segelintir dari banyak kasus kegagalan implementasi sim rs yang akhirnya berita tersebut tersebar dari mulut ke mulut dan akhirnya menimbulkan rasa under estimate rumah sakit - rumah sakit di Indonesia terhadap karya anak bangsa.
Tetapi syukurlah, di akhir tahun 2006 ini, hal itu sekarang sudah mulai berkurang seiring dengan bermunculannya penyedia sim rs yang benar-benar setia pada segmennya. Semua kejadian tersebut boleh dibilang merupakan circle of life dari pasar sim rs di Indonesia yang pada tahun 2005 masih merupakan barang kebutuhan baru bagi sebuah rumah sakit di Indonesia.
Biasanya, circle of life ini akan diakhiri dengan dewasanya pasar dari produk tersebut yang ditandai dengan terpetakannya dengan jelas pasar penyedia barang, seperti yang mulai terlihat pada akhir tahun 2006 ini pada pasar penyedia sim rs di Indonesia.
Semoga semakin banyak rumah sakit di Indonesia yang belajar dari kejadian-kejadian tersebut dan tidak merasa under estimate terhadap karya anak bangsa ini, tetapi tentu saja disertai dengan pengetahuan yang cukup untuk menguasai pasar penyedia sim rs sehingga bisa memilah-milah mana penyedia sim rs yang sesuai dengan kebutuhan. Jika butuh harga murah, jangan mencari penyedia sim rs yang bersegmen corporate. Sebaliknya jika membutuhkan kualitas, jangan mau terjebak iming-iming penawaran berharga rendah, seperti pepatah jawa bilang, "Ono rego ono rupo" (ada harga ada rupa/kualitas).

SIM RS, Harus Menggunakan Web Base atau Desktop?

SIM RS, Harus Menggunakan Web Base atau Desktop?

Sekitar bulan September 2006 yang lalu, saya sempat ditanya oleh seorang personil di sebuah rumah sakit, sebut saja namanya X. Si X ini bertanya kepada saya, "Pak, katanya SIM RS yang bagus itu harus menggunakan web base, ya? katanya kalau desktop itu teknologi yang ketinggalan jaman? katanya kalau menggunakan web base tidak perlu repot-repot instalasi di setiap komputer? katanya kalau menggunakan desktop kalau 1 komputer bermasalah, lainnya akan otomatis terganggu? katanya eGovernment saja menggunakan web base, masa SIM RSnya menggunakan desktop? Kalau menggunakan desktop katanya tidak bisa diakses dari pihak eksekutif yang notabene berbeda gedung dengan rumah sakit?"
Demikianlah berondongan pertanyaan tersebut mengalir dari si X yang menurut saya menjadi korban promosi sepihak dari salah satu penyedia sim rs atau bisa jadi si X ini adalah seorang yang awam terhadap teknologi.

Lalu, bagaimana baiknya? apakah sim rs harus menggunakan web base atau desktop? kita jawab satu persatu dari pertanyaan si X ini.......

"Pak, katanya SIM RS yang bagus itu harus menggunakan web base, ya?

Sebelum menjawab semua pertanyaan tersebut, ada baiknya kita pahami terlebih dahulu karakter dari web base dan dekstop application ini.
Teknologi web base ketika dikembangkan ditujukan untuk aplikasi-aplikasi yang membutuhkan accessibility alias kemudahan akses bagi pengguna alias dimanapun lokasi pengguna akan dengan mudah menggunakan aplikasi tersebut. Seiring dengan perkembangan teknologi di bidang operating system, maka karakter web base turut berkembang dengan menambahkan kemampuan portability alias kemampuan multi platform alias aplikasi web base bisa dijalankan di berbagai operating system.

Mengapa aplikasi web base bisa dijalankan di berbagai operating system? itu karena aplikasi web base tidak memerlukan program aplikasi di komputer client-nya melainkan hanya membutuhkan internet browser (microsoft internet explorer, mozilla fire fox, crazy browser, dll) untuk menjalankan aplikasi yang ada di server. Untuk itu, server untuk aplikasi web base harus mempunyai web server, program aplikasi sim rs dan database server.

Sedangkan untuk desktop application, sejak semula dikembangkan memang diarahkan untuk membantu process execution time alias membantu mempercepat pekerjaan user alias berfokus pada peningkatan eksekusi sebuah proses pekerjaan. Aplikasi berbasis desktop tidak terlalu mempertimbangkan faktor-faktor seperti pada karakter aplikasi berbasis web.

Jika server untuk aplikasi berbasis desktop mempunyai 3 komponen utama (web server, program aplikasi sim rs dan database server), maka server untuk aplikasi berbasis dekstop hanya membutuhkan 1 komponen yaitu database server.

Dari penjabaran karakter antara aplikasi berbasis web dan berbasis desktop di atas, kita bisa mengetahui bahwa pertanyaan mengenai "SIM RS, harus mengunakan web base atau desktop?" sangatlah terlalu dini untuk dijawab. Mengapa? karena pada dasarnya sim rs sendiri digunakan oleh berbagai fungsi / layanan pengguna di sebuah rumah sakit, dimana setiap fungsi / layanan pengguna memiliki karakter tersendiri dalam melakukan pekerjaannya. ada fungsi / layanan pengguna di rumah sakit yang lebih membutuhkan aplikasi yang membantu mempercepat pekerjaannya (registrasi, tindakan, rekam medis, kasir, dll) dan ada fungsi di rumah sakit yang lebih membutuhkan accesibility (Medical checkup, sistem informasi eksekutif, dll).

Berdasarkan karakter fungsi / layanan pengguna di rumah sakit tersebut, alangkah baiknya jika pertanyaan "SIM RS, harus mengunakan web base atau desktop?" kita pertajam dahulu menjadi "SIM RS untuk fungsi layanan XXXX, harus mengunakan web base atau desktop?" baru kita mulai berbicara solusi atau jawabannya.

Untuk konteks ini ada baiknya kita berpikir out of the box, "Bukankah aplikasi berbasis desktop dan berbasis web sah-sah saja digunakan secara bersamaan dalam sebuah sim rs sebagai solusi bagi rumah sakit? mengapa harus mengacu pada web base atau desktop saja?" pertanyaan terakhir ini bisa dikembalikan oleh pihak rumah sakit kepada pihak penyedia sim rs sebagai tuntunan bagi pihak rumah sakit untuk mengetahui apakah pihak penyedia sim rs sudah berorientasi pada pelanggan (customer oriented) atau elum, karena jika penyedia sim rs belum customer oriented, bisa dipastikan penyedia sim rs tersebut belum bergerak di bidang services melainkan masih di bidang product selling dan ujung-ujungnya akan mengarah pada penjualan mass production dimana hal ini tentunya bukan merupakan solusi bagi rumah sakit dimana setiap rumah sakit adalah unik, tidak ada yang sama persis sekalipun pengelolanya sama.

"Katanya kalau desktop itu teknologi yang ketinggalan jaman?"

Sangat mudah sekali menjawab pertanyaan ini, kalau memang aplikasi berbasis desktop ketinggalan jaman, mengapa aplikasi POS di supermarket-supermarket tidak menggunakan web base? Dan tentu saja jawabannya ada pada perbedaan karakter antara web base dan desktop dimana perbedaan itulah yang seharusnya kita manfaatkan sesuai dengan kebutuhan fungsi / layanan pengguna. Ketika fungsi / layana pengguna tersebut membutuhkan kecepatan, kita berikan solusi menggunakan aplikasi berbasis dekstop. Namun ketika fungsi / layanan pengguna tersebut membutuhkan accessibility, kita berikan solusi menggunakan aplikasi berbasis web.

Jadi antara web base dan desktop juga bukan masalah lebih modern yang mana, melainkan kembali lagi kepada bagaimana karakter dari fungsi / layanan pengguna dan pada akhirnya berdasarkan karakter fungsi / layanan pengguna tersebut solusi yang manakan yang paling tepat, akan menggunakan aplikasi berbasis web atau aplikasi berbasis desktop....

"Katanya kalau menggunakan web base tidak perlu repot-repot instalasi di setiap komputer?"
Memang benar karena karakter dari web base yang hanya membutuhkan web browser di komputer client, maka kita hanya butuh melakukan instalasi web browser saja di setiap komputer client (saat ini hampir semua operating system menyertakan web browser dalam paket instalasinya). Hal ini merupakan keuntungan dari aplikasi berbasis web dimana hal ini secara otomatis mempermudah proses instalasi dan pemeliharaan dari aplikasi berbasis web. Berbeda dengan aplikasi berbasis desktop yang harus melakukan instalasi aplikasi di setiap komputer client, maka aplikasi berbasis web ini hanya melakukan instalasi aplikasi di server saja.

Tetapi pihak rumah sakit harusnya tidak usah terlalu merisaukan karena :Pertama, proses instalasi aplikasi merupakan tugas dari penyedia sim rs. jadi proses instalasi sim rs ini dilakukan oleh penyedia sim rs, bukan oleh rumah sakit.
Kedua, rumah sakit sebagai pengguna jasa sim rs, lebih baik memfokuskan assessment-nya pada bagaimana user atau SDM rumah sakit lebih mudah dan nyaman dalam melakukan tugasnya dengan didukung oleh sim rs daripada memfokuskan assessment-nya pada bagaimana proses instalasi yang mudah karena proses instalasi adalah tugas dari penyedia sim rs. Dalam konteks ini yang dibeli oleh sebuah rumah sakit adalah manfaat dari sim rs bukan hanya sekedar kemudahan instalasi dan pemeliharaan. Untuk itu, yang pertama dilakukan oleh pihak rumah sakit adalah melakukan men-define karakter fungsi / layanan pengguna, baru kemudian menentukan web base atau dekstop application yang cocok untuk fungsi / layanan pengguna tersebut, baru kemudian menentukan strategi implementasinya. Tetapi perlu diingat, penyedia - penyedia sim rs yang berfokus pada mass production biasanya enggan melakukan hal-hal tersebut karena jika ujung-ujungnya mereka harus melakukan customize terhadap produknya, mereka akan merasa kesulitan karena konsep mereka adalah mass production, bukannya services.

"Katanya kalau menggunakan desktop kalau 1 komputer bermasalah, lainnya akan otomatis terganggu?"

Pernyataan ini merupakan salah satu false letter dari pihak yang tidak bertanggungjawab, dimana pihak rumah sakit di masa-masa mendatang harus segera mengambil sikap yang tegas dan jelas atas pihak yang mengeluarkan pernyataan-pernyataan seperti ini.

Dalam aplikasi berbasis web, server mempunyai 3 komponen yaitu :
Pertama, web server, yang berfungsi menangani web browser - web browser dari komputer client ketika melakukan aktifitasnya di server Kedua, program aplikasi sim rs danKetiga, database serverSedangkan komputer client hanya berisi web browser.

Semua akses ke program aplikasi sim rs yang dilakukan oleh web browser - web browser di komputer client semuanya melalui web server dahulu sebelum sampai pada aplikasi sim rs. Disini ada 4 kemungkinan kerusakan dengan masing-masing akibatnya yaitu :
Pertama, jika web browser mengalami masalah, otomatis semua komputer client tidak akan bisa menjalankan aplikasi sim rs. Kedua, jika program aplikasi yang rusak, otomatis semua komputer client tidak akan bisa menjalankan aplikasi sim rs.Ketiga, jika database server yang rusak, otomatis semua komputer client tidak akan bisa menjalankan aplikasi sim rs.Keempat, jika web browser di komputer client yang rusak, otomatis hanya komputer client tersebut yang tidak akan bisa menjalankan aplikasi sim rs.

Sebaliknya jika menggunakan aplikasi berbasis desktop, server hanya berisi database server dan komputer client berisi program aplikasi sim rs. Dengan kondisi seperti ini hanya ada 2 kemungkinan kerusakan :
Pertama, jika database server yang rusak, otomatis semua komputer client tidak akan bisa menjalankan aplikasi sim rs.Kedua, jika program aplikasi sim rs di komputer client yang rusak, otomatis hanya komputer client tersebut yang tidak akan bisa menjalankan aplikasi sim rs.
Dari paparan di atas bisa sama-sama kita lihat dengan jelas bahwa pada penggunaan aplikasi berbasis web mempunyai 4 kemungkinan kerusakan sedangkan pada aplikasi berbasis desktop hanya mempunyai 2 kemungkinan kerusakan.

Jadi jika pada bahasan sebelumnya disebutkan untuk instalasi dan pemeliharaan memang aplikasi berbasis web lebih mudah, tetapi mempunyai resiko kerusakan yang lebih tinggi, sedangkan pada aplikasi berbasis desktop memang pada saat proses instalasi dan pemeliharaan tetapi memiliki resiko kerusakan yang lebih rendah.

Tetapi sekali lagi, semua ini adalah resiko teknis yang seharusnya menjadi tugas dari pihak penyedia sim rs yang memikirkan bagaimana cara penanganannya, sedangkan bagi pihak rumah sakit sebagai pembeli, tugas rumah sakit adalah menentukan manakah yang lebih sesuai dengan karakter fungsi / layanan pengguna sim rs, menggunakan web base ataukah desktop, itu saja. Selanjutnya mengenai instalasi dan pemeliharaan, sekali lagi, merupakan tugas penyedia sim rs untuk memikirkannya.

Dengan lebih berfokus kepada mana yang lebih sesuai untuk karakter fungsi / layanan penggunanya, pihak rumah sakit akan benar-benar bisa merasakan manfaat sim rs sebagai pendukung dari setiap aktifitas di rumah sakit.

"Katanya eGovernment saja menggunakan web base, masa SIM RSnya menggunakan desktop?"

Untuk pertanyaan ini, jawabannya masih sama dengan jawaban-jawaban sebelumnya, SIM RS tidak semuanya mesti menggunakan desktop, melainkan tergantung dari kebutuhan setiap fungsi / layanan pengguna. Demikian juga dengan eGovernment, tidak semua aplikasi eGovernment menggunakan web base sebagai solusi terbaik, melainkan kita kembalikan dahulu kepada karakter dari fungsi / layanan penggunanya.

"Kalau menggunakan desktop katanya tidak bisa diakses dari pihak eksekutif yang notabene berbeda gedung dengan rumah sakit?"

Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita perjelas terlebih dahulu maksud dari "diakses". Disini menurut saya kata "diakses" di sini mempunyai 2 arti yaitu :
Pertama, program aplikasi SIM RS diakses oleh pihak eksekutif alias dalam konteks ini program sim rs bisa dijalankan oleh seorang eksekutif, katakanlah walikota atau bupati.
Kedua, datanya (data rumah sakit) diakses oleh pihak eksekutif untuk mendapatkan informasi-informasi sebagai pendukung pengambilan keputusan.

Dari 2 pengertian di atas tentunya kita sama-sama dan sepakat bahwa pengertian pertama tidaklah mungkin dilakukan oleh seorang eksekutif. Apakah mungkin pihak eksekutif berkeinginan menjalankan program kasir sebuah rumah sakit? tentu saja pengertian ini sangat konyol, tetapi menurut saya juga penting untuk dipaparkan untuk memperjelas pengertian dari kata "diakses" di atas.

Jadi saat ini kita sama-sama sepakat bahwa yang dimaksud kata "diakses" adalah pihak eksekutif mempunyai kepentingan untuk mengakses data rumah sakit.

Jika data adalah yang dimaksud dalam kata "diakses", maka "pertanyaan apakah sim rs harus menggunakan web base atau desktop" tidaklah relevan dipertanyakan dalam konteks ini. Mengapa? karena kemampuan data untuk diakses dari berbagai lokasi tidaklah tergantung pada aplikasinya berbasis web atau berbasis desktop melainkan tergantung pada fitur produk database server-nya dan kondisi infrastrukturnya.

Pada era sekarang ini, hampir semua database baik itu database server maupun file server, asalkan infrastruktur komunikasinya memadai bisa diakses dari berbagai lokasi. Hanya saja, kita butuh memilih database yang kita gunakan karena terkait dengan kebutuhan akan keamanan data dan kecepatan aksesnya. untuk kedua hal ini, maka pilihan mau tidak mau jatuh kepada database dengan teknologi yang terbaik dan terbaru yaitu database server.

Dalam database server sendiri ada banyak sekali pilihan, diantaranya yang terbaik misalnya microsoft SQL Server dan Oracle. Baik MS SQL Server maupun oracle, kedua-duanya mendukung akses data wireless (internet, wave lan, dial up, dll) sehingga datanya bisa diakses dari berbagai lokasi.

Untuk kasus ini, bahkan saya pernah menangani program aplikasi dengan menggunakan salah satu dari 2 database server tersebut untuk 2 lokasi yaitu Jakarta dan Singapura dengan menggunakan aplikasi DESKTOP.

So, tentunya tidak hubungannya antara pemilihan aplikasi web base dan desktop dengan kemampuan akses data dari berbagai lokasi.

KESIMPULAN
Berkaitan dengan kejadian ini, alangkah baiknya pihak rumah sakit lebih waspada dalam menanggapi suatu ionformasi karena bisa saja informasi tersebut merupakan false education atau bisa dikategorikan sebagai false letter dari pihak penyedia sim rs dimana informasi yang mereka sediakan tentunya untuk menguntungkan mereka sendiri.

Selain itu alangkah baiknya jika pihak rumah sakit juga menyadari bahwa dahulu, marketer berprinsip "bagaimana membantu membeli", tetapi sekarang karena berbagai macam alasan para marketer telah beralih prinsip menjadi "bagaimana memaksa membeli" atau "bagaimana cara menjual", termasuk salah satunya dengan memberikan false education atau false letter tersebut.

Memang tudingan ini terkesan kejam, tetapi lebih kejam lagi efek dari false education atau false letter ini dimana mindset yang tertanam di setiap personil rumah sakit di Indonesia menjadi keliru dan absurd.

Semoga pesan ini juga ditangkap oleh para akademisi di Indonesia agar membantu memberikan edukasi yang baik kepada setiap personil rumah sakit di Indonesia.
Semoga pesan ini juga ditangkap oleh para marketer di Indonesia agar bersama-sama kita kembali ke prinsip "bagaimana membantu membeli" demi kemajuan Indonesia kita tercinta ini.....Indonesia maju, bisnis juga berjalan dengan baik.....